LINIMASSA.ID, TANGSEL – Aksi perundung di SMPN 10 Tangsel bikin heboh. Kini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) dan DPRD Kota Tangsel turun gunung mencari solusi terbaik untuk selesaikan masalah dan evaluasi.
Komisi II DPRD Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) mendatangi SMPN 10 Tangsel, Senin (26/10/2026).
“Ini menjadi bagian daripada respon kami di DPRD untuk mengklarifikasi dan minta penjelasan kepada pihak sekolah terkait dengan berita yang beredar di media,” kata Ketua Komisi II DPRD Kota Tangsel, Ricky Yuanda Bastian, Senin (26/10/2026).
Ricky menuturkan, pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) melalui unit terkait.
Ia menegaskan, penanganan kasus tidak hanya berfokus pada proses hukum, tetapi juga pada pemulihan kondisi psikologis korban dan pencegahan kejadian serupa di lingkungan pendidikan.
Ricky juga menyampaikan bahwa pihak kepolisian siap menindaklanjuti perkara sesuai prosedur apabila laporan resmi diajukan.
“Kalaupun memang terjadi laporan, mereka (Polres) juga siap-siap akan menangani hal tersebut. Rekomendasi kami tetap menjunjung tinggi terkait dengan proses. Kalau memang proses kami mengedepankan terkait dengan aspek hukum, maka kita juga menghargai proses hukum,” ungkapnya.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Tangsel, Deden Deni menyatakan pertemuan tersebut bertujuan mencari solusi sekaligus mengevaluasi langkah pencegahan yang selama ini telah berjalan.
“Beberapa hal yang kami diskusikan hari ini tujuannya adalah dalam rangka mencari solusi terutama dalam rangka pencegahan supaya hal yang sama tidak terjadi lagi di kemudian hari,” katanya.
“Termasuk juga mungkin paska ini kami apa? Membikin formula supaya hal yang sama tidak terjadi lagi, tentunya dengan apa? Kaitan dengan antisipasi atau pencegahan, walaupun sebenarnya sudah berjalan tapi tetap ternyata itu kejadian juga,” sambungnya.
Menurutnya, dugaan kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan pihak sekolah untuk memperkuat program budaya sekolah yang aman dan nyaman.
“Mengevaluasi program yang sudah berjalan hari ini, kaitan dengan budaya sekolah aman dan nyaman, nah mungkin diaktifkan lagi, dikuatkan lagi supaya apa? Hal semacam ini tidak terjadi lagi, tidak hanya di SMP 10 tentunya,” ungkapnya.
Deden menerangkan, saat ini para terduga pelaku perundungan masih bersekolah. Kata dia, pihaknya masih melakukan investigasi untuk mencari solusi terbaik bagi semua siswa. (KO/RED)

