SERANG, LINIMASSA.ID – Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan perairan Selat Sunda masih berstatus Level III atau Siaga.
Hasil pemantauan pada Senin (19/10/2026), mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, menunjukkan aktivitas kegempaan masih berlangsung dengan gempa hybrid sebagai kejadian yang paling dominan.
Laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan, selama enam jam pengamatan tercatat 21 kejadian gempa hybrid atau fase banyak Gunung Anak Krakatau. Gempa tersebut memiliki amplitudo antara 11 hingga 46 milimeter, dengan durasi berkisar 4 sampai 13 detik.
Selain gempa hybrid, instrumen pemantauan turut mendeteksi tiga kejadian gempa vulkanik dangkal, satu gempa frekuensi rendah, serta satu gempa vulkanik dalam.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga ditandai dengan munculnya tremor menerus atau microtremor. Getaran tersebut memiliki amplitudo 1–10 milimeter, sementara amplitudo yang paling sering tercatat berada pada angka 3 milimeter.
Di sisi lain, pengamatan secara visual belum memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi gunung. Kabut yang menyelimuti kawasan puncak membuat asap dari kawah tidak terlihat. Sementara itu, kamera pengawas atau CCTV belum dapat menampilkan kondisi gunung secara jelas karena tertutup abu vulkanik.
Kondisi meteorologi di sekitar Gunung Anak Krakatau dilaporkan berawan. Angin bertiup dengan intensitas lemah menuju arah barat laut. Adapun suhu udara berada pada kisaran 25,7–26,2 derajat Celsius, dengan tingkat kelembapan mencapai 83–85 persen.
PVMBG Tetapkan Zona Terlarang Gunung Anak Krakatau
Seiring dengan status Siaga yang masih berlaku, PVMBG meminta masyarakat dan berbagai pihak untuk mematuhi batas aman di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat umum, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki dilarang mendekati pusat erupsi hingga radius 5 kilometer. Pembatasan aktivitas juga diberlakukan dalam jarak 1 kilometer dari pulau baru yang berada di sektor barat laut dan tenggara gunung.
Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah pencegahan terhadap berbagai potensi bahaya vulkanik. Ancaman yang perlu diwaspadai meliputi lontaran material pijar, hujan abu dengan intensitas tinggi, aliran lava, hingga kemungkinan terjadinya erupsi sekunder ketika lava bersuhu tinggi bersentuhan dengan air laut atau air hujan.
PVMBG turut meminta warga yang tinggal di kawasan pesisir Banten dan Lampung agar tidak panik dalam menyikapi perkembangan aktivitas vulkanik tersebut.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak langsung mempercayai kabar yang mengaitkan erupsi Gunung Anak Krakatau dengan ancaman tsunami. Informasi semacam itu perlu disikapi secara kritis dan dikonfirmasi melalui sumber resmi yang berwenang.
Walaupun demikian, warga tetap dapat melaksanakan kegiatan sehari-hari dengan memperhatikan kondisi lingkungan serta mengikuti petunjuk dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah masing-masing.
Untuk memperoleh informasi terbaru mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau, masyarakat dapat menghubungi Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau yang berlokasi di Pasauran, Banten.
Pos pengamatan tersebut dapat dihubungi melalui nomor telepon (0254) 651449 atau 085846324506.
Selain itu, laporan mengenai aktivitas gunung api dapat diakses melalui situs resmi MAGMA Indonesia di https://magma.esdm.go.id/v1/gunung-api/laporan.
PVMBG kembali mengingatkan pentingnya mengacu pada informasi yang diterbitkan oleh instansi berwenang. Langkah tersebut diperlukan agar masyarakat dapat memahami situasi terkini secara tepat serta mengambil tindakan sesuai dengan rekomendasi keselamatan yang berlaku.

