LINIMASSA.ID — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini semakin merambah ke berbagai sektor pekerjaan. Dengan adanya kondisi ini tentunya membuat para fresh graduate menghadapi tantangan baru karena sejumlah tugas yang sebelumnya dikerjakan oleh manusia kini bisa diambil alih oleh teknologi AI.
Laporan World Economic Forum (WEF) Future of Jobs Report 2025 memperkirakan sekitar 22 persen pekerjaan saat ini akan mengalami perubahan struktural hingga 2030. Sebanyak 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan tercipta, sementara 92 juta pekerjaan berpotensi terdampak atau tergantikan, sehingga terdapat pertumbuhan bersih sekitar 78 juta pekerjaan.
Pekerjaan yang banyak berisikan tugas rutin menjadi salah satu sektor yang paling terpapar. International Labour Organization (ILO) menyebut pekerjaan administratif dan berbagai pekerjaan berbasis tugas rutin memiliki tingkat paparan GenAI yang tinggi. Namun, dengan paparan AInsaat ini bukan berarti pekerjaan tersebut hilang sepenuhnya karena sebagian besar pekerjaan masih memburu keterlibatan manusia.
Di Indonesia, kelompok pekerja muda juga menghadapi tingkat paparan yang cukup tinggi. ILO mencatat paparan GenAI mencapai 26,1 persen pada pekerja muda berusia 15–24 tahun, dibandingkan 21,1 persen pada pekerja dewasa. Angka tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan generasi muda menghadapi perubahan pola kerja akibat perkembangan teknologi.
Bagi Della Puspita, mahasiswa Untirta fakultas FKIP, menilai bahwa kehadiran AI tidak selalu harus dilihat sebagai ancaman, menurutnya fresh graduate perlu memahami teknologi tersebut agar bisa menggunakannya sebagai alat pendukung pekerjaan.
“Menurut saya, fresh graduate tidak harus takut dengan AI. Justru kita harus belajar menggunakannya. AI bisa membantu mencari ide atau mengolah pekerjaan, tetapi hasil akhirnya tetap harus diperiksa dan dipertimbangkan manusia,” ujar Della
AI di Dunia Kerja
Sementara itu, Iksan Septiana, mahasiswa Keperawatan Untirta, melihat kemampuan manusia tetap menjadi keunggulan penting di tengah perkembangan AI. Menurutnya, kreativitas, komunikasi interpersonal, empati, dan kemampuan memahami konteks menjadi keterampilan yang tidak boleh ditinggalkan oleh calon pekerja.
“AI memang bisa membuat pekerjaan lebih cepat, tetapi kemampuan memahami orang lain dan membangun komunikasi tetap penting. Fresh graduate harus punya kemampuan menggunakan AI sekaligus kemampuan yang tidak mudah digantikan teknologi,” kata Oksa Septia
Pandangan tersebut juga sejalan dengan WEF yang memperkirakan keterampilan teknologi seperti AI, big data, dan keamanan siber akan semakin dibutuhkan. Di sisi lain, kemampuan manusia seperti berfikir kreatif, ketahanan, fleksibilitas, kolaborasi serta kepemimpinan juga tetap menjadi keterampilan penting di dunia kerja.
Karena itu, kehadiran AI tidak harus menjadi alasan fresh graduate untuk takut memasuki dunia kerja. Tantangan utamanya justru bagaimana lulusan baru mampu beradaptasi, meningkatkan keterampilan, memahami penggunaan AI secara bertanggung jawab, dan tetap mengembangkan kemampuan manusia yang menjadi nilai tambah di tengah perubahan dunia kerja.

