PANDEGLANG, LINIMASSA.ID – Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang melaporkan peningkatan signifikan kasus suspek campak di Pandeglang pada tahun 2026. Hingga awal April, jumlah kasus tercatat mencapai 650.
Sebelumnya, sepanjang tahun 2025 terdapat 265 kasus suspek campak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 47 kasus atau sekitar 18 persen terkonfirmasi positif melalui pemeriksaan laboratorium.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pandeglang, Dian Handayani, menyampaikan bahwa lonjakan kasus campak di Pandeglang mulai terlihat pada tahun ini.
“Hingga 4 April 2026 atau pekan ke-13, total suspek campak mencapai 650 kasus,” ujarnya, Selasa (7 April 2026).
Dari ratusan kasus campak di Pandeglang tersebut, sembilan di antaranya telah dipastikan positif berdasarkan hasil uji laboratorium.
Kasus campak dilaporkan tersebar di 35 kecamatan, dengan jumlah terbanyak berasal dari Kecamatan Labuan, Pandeglang, Kaduhejo, Jiput, Banjar, dan Cadasari.
Gejala Campak di Pandeglang
Dian menjelaskan, gejala awal campak di Pandeglang umumnya meliputi demam, batuk, pilek, serta radang mata (konjungtivitis). Ruam kemerahan biasanya muncul dua hingga empat hari setelah gejala awal.
Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi seperti diare, pneumonia, radang otak (ensefalitis), infeksi telinga (otitis media), luka pada mukosa mulut, kekurangan gizi, hingga kebutaan.
Tingkat keparahan penyakit dipengaruhi oleh usia, kondisi gizi, serta daya tahan tubuh, terutama pada anak yang belum mendapatkan imunisasi campak.
Penularan campak di Pandeglang terjadi melalui percikan cairan saat batuk, bersin, atau berbicara, serta bisa melalui kontak dengan cairan hidung atau penggunaan alat makan dan minum secara bersama.
Untuk penanganan, pasien dianjurkan mendapatkan asupan cairan yang cukup guna mencegah dehidrasi, obat penurun demam, serta suplementasi vitamin A. Isolasi juga diperlukan agar tidak menularkan kepada orang lain.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau memberikan imunisasi campak pada anak usia 9 bulan dan 18 bulan, serta melakukan imunisasi kejar bagi balita yang belum lengkap.
Selain itu, penting untuk menghindari kontak dengan penderita, rajin mencuci tangan, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.



