SERANG, LINIMASSA.ID – Sejumlah pelajar MTs Al Khaeriyah Rancaranji, Desa Kramatlaban, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, terpaksa melewati jembatan rusak di Padarincang yang terbuat dari bambu yang nyaris roboh akibat banjir.
Kondisi tersebut membahayakan keselamatan siswa yang setiap hari melintasi jalur tersebut untuk berangkat dan pulang sekolah.
Jembatan rusak di Padarincang itu selama ini menjadi penghubung utama antara Kampung Rancaranji, Desa Kramatlaban, dengan Kampung Kedung, Desa Bugel.
Selain dimanfaatkan oleh warga sekitar, jembatan tersebut juga menjadi akses penting bagi anak-anak sekolah.
Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, terlihat para siswa menyeberang jembatan rusak di Padarincang dengan penuh kehati-hatian.
Struktur jembatan sudah rusak parah dan sebagian amblas hingga mendekati permukaan air sungai. Anak-anak tampak saling berpegangan untuk menjaga keseimbangan, terutama karena debit air sungai sedang tinggi.
Video tersebut diketahui direkam pada Selasa, 20 Januari 2026. Kerusakan jembatan dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah Padarincang, sehingga Sungai Cikalumpang meluap dan menghantam konstruksi jembatan hingga tidak mampu menahan arus.
Jembatan Rusak di Padarincang
Saat ini, kondisi jembatan rusak di Padarincang dilaporkan sudah tidak dapat digunakan sama sekali. Hampir seluruh bagian bangunan hanyut terbawa arus akibat intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir.
Warga Kampung Rancaranji, Ahmad Hamdani, menyampaikan bahwa meskipun hanya terbuat dari bambu, jembatan tersebut memiliki peran penting bagi aktivitas warga dan para pelajar.
Menurutnya, jalur tersebut merupakan akses tercepat untuk menghubungkan Desa Kramatlaban dan Desa Bugel.
“Selain untuk anak sekolah, warga juga sering melewati jembatan itu. Bahkan, kendaraan roda dua kerap melintas karena bisa memangkas jarak tempuh,” ujarnya, Rabu 21 Januari 2026.
Ia menjelaskan bahwa awalnya jembatan rusak di Padarincang hanya mengalami kerusakan sebagian. Namun hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan kondisi semakin parah hingga akhirnya hanyut terbawa arus sungai.
“Padahal jalur itu sangat membantu warga yang ke sawah atau anak-anak ke sekolah. Memang ada jalur lain, tapi harus memutar cukup jauh, apalagi bagi yang tidak punya kendaraan,” tuturnya.
Ahmad menambahkan, jembatan bambu tersebut dibangun secara swadaya oleh masyarakat sebagai jalur alternatif. Setelah jembatan rusak, warga terpaksa menempuh perjalanan lebih jauh dengan melewati beberapa kampung.
Ia berharap pemerintah daerah dapat segera membangun jembatan baru dengan konstruksi yang lebih kuat dan permanen agar aktivitas warga tidak lagi terganggu.
“Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah supaya jembatan rusak di Padarincang dibangun jembatan yang lebih kokoh, sehingga warga bisa beraktivitas dengan aman dan lancar,” pungkasnya.



