SERANG, LINIMASA.ID – Geng motor semakin meresahkan, seorang remaja berinisial MRF ditemukan tewas di pinggir jalan Desa Pejaten, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Sabtu malam, 1 Desember 2024. Korban tewas setelah diduga terlibat tawuran antar geng motor.
Berdasarkan video yang beredar, korban ditemukan sudah tertelungkup di pinggir jalan. Dalam video berdurasi selama 16 tersebut, korban terlihat mengenakan baju panjang berwarna hitam dan hanya mengenakan celana dalam.
Korban diduga kuat menjadi korban tawuran antar Geng Motor yang terjadi pada malam itu.
“Ditemukan mayat di Pejaten,” ujar perekam video, Senin 2 Desember 2024.
Mayat korban tawuran Geng Motor itu merupakan warga Ciwandan, Kota Cilegon. Jasadnya telah dievakuasi petugas kepolisian ke RSUD dr Dradjat Prawiranegara, di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Serang, Kota Serang untuk keperluan autopsi.
“Mayatnya sudah diautopsi. Sudah dibawa ke rumah duka,” ujar salah warga di RSUD dr Dradjat Prawiranegara.
Sementara itu, salah satu anggota Polresta Serang Kota mengatakan, kasus tersebut dalam penanganan Satreskrim Polresta Serang Kota. “Kejadiannya malam minggu, yang tangani Resmob,” ujarnya.
Kapolsek Kramatwatu Kompol Salahuddin saat dikonfirmasi membenarkan adanya kasus tersebut. “Masih dilidik Polresta (penanganan kasus-red),” tuturnya kepada wartawan.
Kronologi Anggota Geng Motor Tewas Usai Tawuran di Kramatwatu

Seorang terduga anggota geng motor berinisial MRF (21) tewas usai terlibat tawuran di Jalan Raya Serang – Cilegon, tepatnya Desa Pejaten, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Minggu pagi, 1 Desember 2024.
Tewasnya warga Lingkungan Sri Tanjung, Kelurahan Randakari, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon itu ke rumah sakit tersebut kini viral di media sosial (medsos).
Menurut Kapolsek Kramatwatu, Kompol Salahuddin, jasad korban ditemukan warga di lokasi kejadian sekitar pukul 04.00 WIB. Saat ditemukan, korban diduga masih hidup dan dalam kondisi kritis. “Saat ditemukan masih gerak,” ujarnya, Senin kemarin, 2 Desember 2024.
Warga yang menemukan korban tak berdaya melaporkannya ke petugas kepolisian. Dari informasi itu, petugas mendatangi lokasi dan membawa warga Lingkungan Sri Tanjung, Kelurahan Randakari, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon itu ke rumah sakit. “Korban meninggal di rumah sakit,” kata Salahuddin.
Salahuddin menjelaskan, saat ditemukan, pihaknya tidak menemukan identitas pada diri korban. Identitas korban terungkap setelah dilakukan proses diidentifikasi melalui pemeriksaan sidik jari. “Berhasil diidentifikasi melalui pemeriksaan sidik jari (melalui mobile automatic multi biometric identification system-red),” ujarnya.
Salahuddin mengatakan, pasca identitas korban terungkap, pihaknya menghubungi keluarga korban. Dari keterangan yang didapat dari keluarga korban, pria kelahiran 2003 itu sebelum kejadian pergi bersama dua orang temannya. “Korban ini pergi bersama temannya sekitar pukul 19.00 WIB,” ujar pamen Polri ini.
Selanjutnya, dari keterangan keluarga korban, polisi berhasil mendapati keberadaan teman korban dan dilakukan proses pemeriksaan. Dari hasil keterangan sementara, ketiganya sempat mencari lawan untuk tawuran di daerah Cilegon. “Sempat nyari lawan di Kranggot tapi tidak ketemu sehingga main ke wilayah Serang,” ujar mantan Kapolsek Cikande ini.
Salahuddin mengatakan, saat ini pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab korban tewas. Sebab, teman korban diduga belum memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya kepada petugas kepolisian.
“Teman korban tidak memberikan keterangan korban terjatuh (dari motor-red), dia meninggalkan korban setelah kejadian. Kami belum mengetahui apakah korban ini meninggal dunia karena kecelakaan atau karena tawuran,” ungkapnya.
Sementara itu, Kasi Humas Polresta Serang Kota, Ipda Raden M Maulani mengatakan, sebelum ditemukan tewas, korban bersama dua temannya pergi ke belakang Pasar Kranggot. Tempat ini merupakan titik kumpul Geng Serantal Seruntul. “Mereka kumpul untuk melakukan aksi tawuran dengan Geng Grock di daerah Pejaten,” ujarnya.
Saat sudah berkumpul, korban bersama teman-temannya berangkat ke Gunung Pinang, Desa Pejaten. Di lokasi tawuran itu, korban langsung turun dari motor dan berlari ke depan dengan membawa sebilah bambu. “Saat berlari ke depan itu, korban tiba-tiba terjatuh dengan kepala belakang membentur terlebih dahulu ke aspal,” ungkapnya.
Teman-teman korban dikatakan Raden sempat mencoba membantu menyelamatkan korban dengan menyeret kakinya. Namun, saat menyeret korban, teman korban itu dilempari batu dari pihak lawan. Mereka yang khawatir terkena lemparan batu kemudian meninggalkan korban di lokasi dan pulang ke Cilegon. “Karena banyaknya lemparan batu, teman korban langsung mundur ke belakang dan kembali ke Cilegon,” katanya.
Raden menambahkan, korban meninggal dunia akibat mengalami benturan keras pada bagian kepala. “Diduga karena benturan pada bagian kepala (penyebab kematian korban-red),” tuturnya.



