linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Reading: Reog Ponorogo, Hiburan Rakyat yang Kental Mistik
linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Cari di sini
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Punya akun? Sign In
Follow US
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
linimassa.id > Indeks > Gaya Hidup > Reog Ponorogo, Hiburan Rakyat yang Kental Mistik
Gaya Hidup

Reog Ponorogo, Hiburan Rakyat yang Kental Mistik

Hilal Ahmad 17 Februari 2024
Share
waktu baca 8 menit
Reog Ponorogo. (Foto : Nusantarapedia.Net)
Reog Ponorogo. (Foto : Nusantarapedia.Net)
SHARE

linimassa.id – Berasal dari Ponorogo, Jawa Timur, reog menjadi hiburan rakyat yang mengandung unsur magis.

Contents
BertahanWarisan BudayaLegenda

Penari utama adalah orang berkepala singa dengan hiasan bulu merak, dengan berat topeng mencapai 50–60 kg. Ditambah beberapa penari bertopeng dan berkuda lumping dan Reog asli dari Indonesia

Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat Reog dipertunjukkan.

Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

 

Bertahan

Reog Sebuah seni pertunjukan tua yang bertahan dari gempuran zaman. Memiliki nilai seni sekaligus nilai-nilai luhur.

Reog adalah bentuk kesenian yang tumbuh berabad-abad lalu. Ada dua ragam bentuk reog yang dikenal saat ini, yakni Reog Obyog dan Reog Festival.

Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa acara seperti pernikahan, khitanan, dan hari-hari besar Nasional.

Seni Reog terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Reog obyog Sering pentas di pelataran atau jalan tanpa mengikuti pakem tertentu. Biasanya mengisi acara hajatan, bersih desa, hingga pementasan semata untuk menghibur.

Sedangkan Reog Festival sudah mengalami modifikasi dan ditampilkan sesuai pakem dalam acara tahunan Festival Reog yang diadakan Pemerintah Kota Ponorogo sejak 1997.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Berdasarkan lokakarya pengusulan ICH UNESCO tanggal 15-16 Februari 2022, Reog Ponorogo masuk Daftar Warisan Budaya Tak benda (WBTb) UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).

 

Warisan Budaya

Reog telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Indonesia dengan nomor: 201300028 pada tahun 2013, sedangkan pencatatan Reog Ponorogo telah dilakukan sejak tahun 2010 kemudian diperbarui pada tahun 2022 oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten, Ponorogo, Jawa Timur.

Pencatatan Reog Ponorogo melibatkan komunitas, kelompok, dan individu, yaitu Sanggar Tari Kawulo Bantarangin, Paguyuban Reyog Putri Sardulo Nareswari, Reog Taruno Mudha, Simo Budi Utomo, Margojati Jolosutro, Singo Manggolo, Taruno Jayengrono, Margojati Jolo Sutro, Singo Budoyo, Simo Budi Utomo, Sanggar Tari Candra Waskitha, Padepokan Tari Langen Kusuma, Kartika Puri Joglo Paju, Singo Manggolo Yudo, Singo Mulyo, Galuh Suryo Hanggolono, Sardulo Sentono, Singo Bantarangin, Gedhong Manggolo, Niken Gandini, Paguyuban Bujangganong Ponorogo, Gajah Manggolo, Reog Taruna Suryo, Komunitas Kawulo Ponorogo Etan, Singo Yudha, Reog Watoe Dakon, Dapur Seni Probo Wengker, Seniman Kecil Reog Ponorogo, Yayasan Reyog Ponorogo, Simo Lodro Lelono, Handoko Kurdho, Sanggar Passwetan, Singo Bedjho Gumelar Surakarta Hadiningrat, Mudho Manggolo Sakti, Singo Liman Budhoyo Bantarangin, Suryo Manggolo Bantarangin, Sanggar Sardulo Aji Manggolo, Paguyuban Reyog Ponorogo Jabodetabek (PJPR), H. Achmad Tobroni, Ponorogo (Praktisi), Dewa, Solo (Pelatih), Y.F. Sukasno (Ketua Reog Gandekan Solo), Agung Nugroho, Ponorogo (Pembina grup Reog Putri), Fitri, Kota Metro Lampung (Master), Agung Prayungan, Solo (Ketua Konco Reog), Marji, Ponorogo (Master), dan Darno, Jakarta (Praktisi)

Sejarah Singkat Reog Ponorogo telah menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Ponorogo sejak jaman dahulu hingga sekarang ini. Reog Ponorogo sudah berumur lebih dari 2 abad. Hal itu dapat dilihat dari naskah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III Ing Surakarta, Pupuh di Serat Centini.

 

Legenda

Menurut menurut legenda, keberadaan seni reog sudah ada sejak masa Kerajaan Kediri abad XI. Hal ini terkait cerita prosesi lamaran Prabu Kelanasewandana dari Kerajaan Wengker kepada Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri.

Legenda ini dianggap sebagai versi sejarah tertua dari reog. Hingga saat ini cerita legenda Prabu Kelanasewandana tersebut masih dijadikan sebagai salah satu alur cerita dari seni pertunjukan reog di Ponorogo. Alur cerita ini kemudian dikenal sebagi pertunjukan seni reog versi legenda Bantarangin.

Selain berdasarkan legenda Prabu Kelanasewandana, sejarah keberadaan seni reog pada masa kuno (zaman Hindhu-Budha) juga dapat diketahui melalui cerita versi legenda Suryongalam.

Pada versi ini diceritakan bahwa Demang Suryongalam dari Wengker yang bernama Ki Ageng Kutu (sekarang jadi nama Desa Kutu, Kecamatan Jetis) membuat seni reog sebagai bentuk kritik kepada pemerintahan Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit (abad XV).

Raja Brawijaya V dianggap tidak mampu melaksanakan tugas kenegaraan dengan baik disebabkan oleh dominasi permaisurinya. Legenda ini juga menjadi salah satu pilihan alur cerita pada seni pertunjukan reog di Ponorogo.

Pada pertunjukan reog versi legenda Suryongalam terdapat 3 peran yang dimainkan, yakni ganongan, jatilan, dan dadak merak.

Kedua legenda tersebut menjadi petunjuk bahwa seni reog di Ponorogo sudah ada sejak zaman Hindu-Budha. Selanjutnya seni reog ini terus dikembangkan hingga periode awal masa islamisasi di tanah Jawa oleh Raja Katong (Bathoro Katong) pada akhir abad XV.

Pada versi ini terdapat 4 peran yang dimodifikasi dari versi Bantarangin, yakni tari kelana, ganongan, jatilan dan dadak merak. Sebelum Bathoro Katong berkuasa, masyarakat Ponorogo mengenal seni reog sebagai barongan yang menjadi permainan para warok.

Kemudian pada masa pemerintahan Bathoro Katong seni barongan dirubah menjadi reog dan digunakan sebagai media dakwah Islam. Kata “reog” berasal dari kata “riyokun” yang artinya khusnul khatimah. Maksudnya, perjuangan Bathoro Katong dalam menyebarkan agama Islam di Ponorogo diharapkan menjadi perjuangan yang diridhai Tuhan.

Setelah masa pemerintahan Bathoro Katong, seni reog terus dipertunjukan dan dilestarikan hingga saat ini. Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, seni pertunjukan reog sempat dibatasi karena untuk menghindari pengumpulan massa yang beresiko munculnya nasionalisme atau pemberontakan.

Setelah Indonesia merdeka, seni reog memiliki angin segar untuk dipertunjukan secara bebas. Bahkan, pada masa orde lama (1960) seni reog sering digunakan oleh partai politik sebagai sarana mengumpulkan massa. Menjelang tahun 1965, muncul beberapa organisasi kesenian, seperti  BREN (Barisan Reog Nasional) didirikan oleh Partai Nasional Indonesia dan CAKRA (Cabang Reog Agama) yang didirikan oleh NU.

Pada tahun 1997, pemerintah mengadakan FRN (Festival Reog Nasional) dengan tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengembangkan kesenian reog agar lebih menasional. Pelaksanaan FRN dilaksanakan bersama dengan Grebeg Suro/ tahun baru Islam.

Reog Ponorogo pada awalnya dipraktikkan dan berkembang di Desa Somoroto Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, kemudian menyebar ke seluruh kecamatan dan desa di wilayah Kabupaten Ponorogo.

Selain itu, reog juga berkembang dan tersebar di sebagian besar provinsi di Indonesia seperti: Jawa Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Lampung, Riau, Kalimantan Timur, Bengkulu, Jambi, Papua, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Barat. Reog Ponorogo juga diketahui berkembang di beberapa negara seperti Amerika, Belanda, Korea, Jepang, Hongkong, dan Malaysia. (Hilal)

Share This Article
Facebook X Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
26 November 2025
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image

Terkini

SPPG Karangtanjung
Dapur MBG SPPG Karangtanjung Belum Kantongi Sertifikat Higiene, Operasional Tetap Berjalan
News
Pemkot Serang
Tangani Banjir di Berbagai Wilayah, Pemkot Serang Ajukan Bantuan ke Provinsi dan Pusat
News
Tambang ilegal di Cilegon
Pemprov Banten Tutup Tambang Ilegal di Cilegon, Satgas Petakan Lokasi di Ciwandan dan JLS
News
Rekonstruksi
Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Anak Kader PKS Dilaksanakan Tertutup di BBS 3
News
Huntara Cigobang
Bertahan Menginap di Kantor Bupati, Warga Huntara Cigobang Tuntut Kejelasan Hunian Permanen
News
linimassa.idlinimassa.id
Follow US
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
logo-linimassaid
Selamat datang kembali!

Login ke akunmu

Username or Email Address
Password

Lost your password?