linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Reading: 2 Dosen Universitas Budi Luhur Resmi Jadi Profesor
linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Cari di sini
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Punya akun? Sign In
Follow US
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
linimassa.id > Indeks > Pendidikan > 2 Dosen Universitas Budi Luhur Resmi Jadi Profesor
Pendidikan

2 Dosen Universitas Budi Luhur Resmi Jadi Profesor

LinimassaNews 3 Februari 2026
Share
waktu baca 6 menit
Universitas Budi Luhur
Dua dosen Universitas Budi Luhur dikukuhkan menjadi Profesor.
SHARE

LINIMASSA.ID – Dua dosen Universitas Budi Luhur resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar. Mereka yakni Prof. Dr. Umaimah Wahid, S.Fil., M.Si dan Prof. Dr. Dudi Iskandar, S.Ag. M.I.Kom.

Kedua dosen ini dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Komunikasi dan Desaign Kreatif Universitas Budi Luhur pada Selasa 3 Februari 2026. Acara yang khidmat ini berlangsung di Graha Mahardhika Bujana, Universitas Budi Luhur.

Dihadapan para tamu undangan Umaimah mengatakan, jika perkembangan teknologi komunikasi yang begitu pesat telah mengubah secara mendasar wajah komunikasi politik saat ini. Kata dia, saat ini komunikasi tidak lagi berjalan lamban, terikat ruang dan menuntut pertemuan fisik.

“Kini komunikasi politik bergerak cepat, lentur dan semakin canggih. Masyarakat dapat mengakses informasi politik yang mereka inginkan hanya dalam hitungan detik,” kata Umaimah dalam orasi ilmiah bertajuk ‘Merawat Nalar Politik di Tengah Bising Digital’.

Kemudian, saat ini politisipun dianggap dapat mendistribusikan pesan pilitiknya secara langsung tanpa batas ruang dan waktu. Bahkan, kata dia, melalui media sosial keduanya dapat berinteraksi secara timbal balik , berganti peran sebagai komunikator dan komunikan dalam perbincangan politik yang berlangsung hampir tanpa jeda seperti yang tertuang dalam Jacunski & Branowski 2015, Mercovity 2017, SerranoContreras et al 2025.

“Perubahan ini menggeser pusat gravitasi komunikasi politik, dari ruang ruang fisik menuju ruang digital. Dari pertemuan tatap muka menuju interaksi berbasis layar. Aktivitas politik yang dulu memerlukan biaya besar, mobilisasi massa, dan simbol simbol yang gegap gempita, kini dapat berlangsung secara cepat dan murah dan masif melalui media sosial,” katanya.

Dia menganggap transformasi ini tidak hanya berdampak pada pada politisi dan warga negara, tetapi juga mengguncangkan media arus utama ketika pusat gravitasi berpindah ke ruang digital juga membuag media konvensional menghadapi tantangan serius.

“Menurunya perhatian publik, tergerusnya pendapatan, bahkan ancaman keberlanjutan. Disisi lain politisi justru semakin menikmati komunikasi langsung dengan konstituennya melalui media sosial tanpa perantara partai atau media,” sebutnya.

Umaimah mengangggap masuknya komunikasi politik ke ruang digital membawa dinamika baru pada seluruh elemen komunikasi, komunikator, pesan, saluran, efek dan khalayak.

“Hampir semuanya kini ada dalam pusaran arus digital dan akan terus berada disana dalam waktu yang sulit diprediksi. Fenomena ini menantang pemahaman konseptual kita tentang komunikasi politik, terutama karena perkembangan teknologi komunikasi telah melahirkan media baru dengan logika dan karakter yang berbeda,” jelasnya. ia menambahkan,” jelasnya.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Umaimah juga mengatakan transformasi lanskap komunikasi politik di era digital telah membawa perubahan substansial yang salah satunya ditandai dengan penggunaan media sosial sebagai platform utama dalam pertukaran pesan politik. Selain media sosial, alat alat digital yang dijadikan sebagai pendukung dalam berkomunikasi politik juga menawarkan sarana untuk mengemukakan pendapat, merespon isu isu terkini, dan menbangun komunitas virtual seputar ide ide politik tertentu.

“Namun kelebihan ini juga menyimpan potensi distorsi informasi, terutama yang digasilkan oleh algoritma yang seringkali memperkuat misinformasi dan memicu polarisasi di kalangan masyarakat. Fenomena seperti hoax, ujaran kebencian dan perundungan terus meningkat menciptakan tantangan bagi masayarakat yang ingin melangsungkan diskursus publik yang sehat. Tidak jaran ruang gema muncul di mana individu hanya terpapar oleh pandangan yang sejalan dengan keyakinan mereka sehingga membatasi ruang untuk debat yang konstruktif,” tegasnya.

Sementara itu Dudi Iskandar dalam orasi ilmiahnya mengulik soal Jurnalisme Plastik. Dia menjelaskan jurnalisme adalah konstruksi informasi publik yang terkonfirmasi, terklarifikasi, dan terverifikasi.

“Pidato ini berawal dari keheranan, kegelisahan, keprihatinan, kecemasan, ketakutan tentang realitas jurnalistik Indonesia kontemporer. Realitas jurnalisme yang dihiasi kepentingan non-jurnalisme, kepentingan politik kekuasaan, pemilik media dan kepentingan ekonomi bisnis jurnalisme,” kata dia.

Menurutnya jurnalisme saat ini tidak netral, jujur, adil, objektif, dan terbuka. Informasi yang disajikan bermasalah.

“Keberpihakan politik kekuasaan menjadikan jurnalisme jurnalisme terhadap kepentingan sebagai alat untuk pemenuhan hasrat politik kekuasaan,” sebutnya.

Dudi mengatakan keberpihakan jurnalisme terhadap kepentingan ekonomi bisnis menjadikan jurnalisme sebagai sesuatu yang dipertukarkan.

Sedangkan jurnalisme yang terseret oleh derasnya arus Information and Communication Technology (ICT), kecerdasan buatan (artificial intellegence), dan teknologi robotika menjadikan jurnalisme sebagai buih yang tuna makna.

“Jurnalisme yang tidak memiliki akar historis. Ia tercerabut dari akar kesejatiannya. Jurnalisme yang mencerahkan, dan berguna bagi Jurnalisme Indonesia memprihatinkan. Bahkan lebih secara pemberi informasi yang sehat, karena kehidupan publik hilang,” kata dia.

Jurnalisme Indonesia menurutnya, memprihatinkan kian hari semakin mengkhawatirkan, ironis, realitas jurnalisme menunjukkan pada banyak kutub yang tidak memiliki substansi jurnalisme yang hakiki.

“Kutub kutub itu terkadang sangat keras, radikal, terkadang seperti teror, sering juga sangat lentur, gemulai, dan adaftif seperti tidak memiliki akar, prinsip, dan nilai negara jurnalisme. Di teknologi tengah pesatnya perkembangan ICT, kecerdasan buatan, dan robotika jurnalisme Indonesia berada dalam ketidakjelasan antara hidup dan matinya. Di antara hutan belantara media sosial, media agregator, dan e-commerce, jurnalisme Indonesia teu jelas juntrunganana (tidak jelas wujudnya),” kata dia.

Dudi menganggap secara konseptual jurnalisme plastik bisa dipahami sebagai jurnalisme yang memiliki konotasi mudah dibentuk, lentur, terbuka, dan dinamis.

“Ia bisa keras, tegas, radikal, bahkan fanatik. Pun banything goes. Juga terbuka, menerima perubahan dan bisa lentur, bisa dibentuk apa saja, bisa dimasuki apapun juga. Selain itu bersifat dinamis; senantiasa berubah, tidak memiliki bentuk tetap,” tukasnya.

Share This Article
Facebook X Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
26 November 2025
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image

Terkini

Pamulang
Warung Kelontong di Pamulang Jual Obat Keras, 2.571 Butir Diamankan
News
DPMPTSP Kota Tangsel
DPMPTSP Kota Tangsel Batalkan Izin Penyelenggaraan Reklame di Jalan Promoter
News
Sampah di Kota Tangsel
TNI dan Polri Babad Sampah di Kota Tangsel, 1.200 Personel Gabungan Bersihkan Sampah
News
Maria Teresa Gerindra Tangsel Bukit Nusa Indah
Maria Teresa Penuhi Janji ke Warga Bukit Nusa Indah, Dukung Pengolahan Sampah dari Hulu
News
PWI Kota Tangsel
HPN 2026, PWI Kota Tangsel Ajak Masyarakat Terapkan Hidup Sehat
News
linimassa.idlinimassa.id
Follow US
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
logo-linimassaid
Selamat datang kembali!

Login ke akunmu

Username or Email Address
Password

Lost your password?