SERANG, LINIMASSA – Dinas Pertanian Provinsi Banten mencatat sebanyak 178,5 hektare sawah di Banten mengalami gagal panen.
Hal itu disebabkan oleh banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Banten sejak Desember 2025 hingga awal Januari 2026 berdampak serius pada sektor pertanian.
Tercatat sebanyak 178,5 hektare lahan sawah di Banten mengalami puso atau gagal panen total akibat genangan air yang berkepanjangan.
Curah hujan yang tinggi menyebabkan sungai meluap dan merendam area persawahan. Sehingga para petani mengalami kerugian akibat peristiwa ini.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus M Tauchid, menyebutkan total lahan sawah di Banten yang terdampak banjir mencapai 2.093 hektare. Area tersebut tersebar di Kabupaten Pandeglang, Lebak, Serang, Tangerang, serta Kota Serang.
“Dari total lahan yang terdampak, 178,5 hektare tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan puso. Sementara itu, sekitar 444 hektare kini mulai terbebas dari genangan,” kata Agus, Rabu (7/1/2026).
Sawah di Banten Kebajiran
Ia menjelaskan, banjir melanda sedikitnya 29 kecamatan dan 79 desa. Kabupaten Serang menjadi daerah dengan luas puso sawah di Banten terbesar, yakni mencapai 101 hektare dari sekitar 760 hektare sawah yang terendam.
Kemudian Kabupaten Lebak menyusul dengan 50 hektare puso dari total 133 hektare lahan terdampak.
Di Kabupaten Pandeglang, luas lahan sawah yang terendam mencapai 880 hektare, dengan 21 hektare di antaranya mengalami gagal panen.
Kabupaten Tangerang mencatat 124,5 hektare sawah terdampak, dengan 6,5 hektare puso. Sementara di Kota Serang, sekitar 195,5 hektare lahan tergenang, namun tidak ditemukan kasus puso.
“Kerusakan terparah akibat gagal panen terjadi di Kabupaten Serang,” ujar Agus.
Menurutnya, jumlah lahan puso tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan meluasnya area banjir.
Kendati demikian, secara keseluruhan dampak banjir terhadap sektor pertanian di Banten masih dalam kategori sedang jika dibandingkan dengan skala nasional.



