LINIMASSA.ID, TANGSEL – Sebanyak 146 warga di Perumahan Serpong Lagoon, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengalami diare akut hingga Muntaber dalam kurun waktu bersamaan.
Ketua RT RT 04 RW 07, Heru Cahyono menyampaikan bahwa kejadian yang menimpa sekitar 146 orang ini diduga berkaitan dengan tercemarnya air PAM yang alirkan ke rumah-rumah warga tercemar.
“Indikasinya memang kearah situ, tapi kita masih menunggu hasil uji air dari Dinas Kesehatan untuk memastikan apa memang faktor utama dari air Water treatment plan WTP yang tercemar,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (14/10/2026).
Heru menjelaskan, suplai air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga memang selama ini dilakukan oleh Arla Poetra Soegama (APS) merupakan penyedia air di Serpong Lagoon.
“Mereka memiliki semacam PAM, jadi warga setiap bulan membayar iuran atas air yang digunakan. Jadi disini air menggunakan WTP. Perbulan pembayaran tergantung pemakaian. Dirumah rumah ada meteran, modelnya seperti PDAM dikelola swasta,” jelasnya.
Menurutnya, terdapat kebijakan dari developer perumahan bahwa pengeboran secara mandiri tidak diperbolehkan.
“Air ini memang bagian bisnis developer juga, jadi ya sejak perumahan dibangun. Sebetulnya peraturan di Perumahan Serpong Lagoon warga tidak boleh melakukan pengeboran secara mandiri,” sebutnya.
Kata Heru, selama ini warga pakai air hanya untuk mandi dan keperluan mencuci piring dan pakaian. Sumber air perusahaan itu diketahui berasal dari danau yang berada di kawasan perumahan.
“Karena sumber airnya dari danau, kemungkinan yang tercemar air di danau,” katanya.
Kondisi air tidak layak pakai ini rupanya sudah dikeluhkan sejak lama, mulai dari berbau hingga keruh. Tetapi, kata Heru, pihak developer tidak mengambil tindakan apapun.
“Iya sudah beberapa kita sudah mengeluhkan terkait kualitas air yang tidak bagu, hampir setiap tahun punya masalah, mulai dari berbau, keruh, bau amis, dan segala macamnya. Memang boom nya sekarang ini karena banyak warga yang terkena penyakit diare dan muntaber,” paparnya.
Hingga kini, sekitar 146 orang terdata mengalami diare dan muntaber. Lalu, belasan warga dilaporkan masih mendapatkan perawatan di rumah sakit. Keluhan diare dan muntaber sudah terjadi selama satu bulan terakhir.
“Total sekitar 146 orang. Ada yang rawat jalan, ada rawat inap, 11 orang masih rawat inap. Sudah satu bulan kebelakang, tapi memang waktu itu kita tidak mengetahui apa masalahnya, setelah banyak yang terjangkit ko ada sesuatu yang tidak beres dilingkungan ini, indikasi utamanya air,” jelasnya.
Warga pun akhirnya mengadukan persoalan itu ke DPRD Kota Tangerang Selatan dan melakukan rapat dengar pendapat (RDP) pada hari ini. Upaya lain yang dilakukan waktu yakni melakukan uji sampel air secara mendiri ke pihak swasta.
“Akhirnya kita coba eskalasi untuk dilaporkan ke DPRD supaya menjadi perhatian serius dari pemerintah apakah PT ini sudah memiliki izin yang benar, SOP dijalankan sesuai regulasi tidak,” pungkasnya.(KO/RED)

